Kamis, 19 September 2019

Industri Penyiaran Radio di Era Disruptif

Kreativitas menjadi kunci penting bagi keberlangsungan industri penyiaran radio di era Industri 4.0, yang penuh dirupsi serta turbulensi ekonomi dewasa ini. Tanpa sentuhan kreativitas, dikhawatirkan industri penyiaran radio bakal kian sulit bertahan dan sulit memberi keuntungan secara bisnis.
Walau masih mampu menunjukkan eksistensinya, industri penyiaran radio swasta menghadapi tantangan yang kian berat di tengah beragamnya kanal informasi dan hiburan sekarang ini. Selain dituntut mampu menyajikan konten-konten yang menarik, informatif dan edukatif, para pengelola stasiun radio juga dituntut mampu memperoleh kucuran iklan yang memadai sehingga stasiun radio yang mereka kelola dapat terus mengudara melayani para pendengarnya.

Menoleh ke belakang, sebelum munculnya stasiun-stasiun televisi swasta, bisa dibilang radio mendapatkan potongan kue iklan cukup besar. Apalagi tatkala TVRI -- satu-satunya stasiun televisi di Indonesia saat itu -- sempat dilarang menayangkan iklan dalam acara-acaranya. Praktis, kue iklan hanya dinikmati oleh media radio, media cetak dan media luar ruang.

Namun, semenjak bermunculannya stasiun-stasiun televisi swasta di Tanah Air, porsi kue iklan untuk radio semakin mengecil. Banyak perusahaan yang kini lebih memilih melakukan promosi produk-produknya lewat media televisi ketimbang lewat media radio.

Di masa silam, stasiun-stasiun radio swasta dengan mudah mendulang iklan. Sejumlah stasiun radio, bahkan, sampai kewalahan menerima order iklan, sehingga terpaksa harus sering menolak order sejumlah iklan lantaran demikian banyaknya order iklan yang masuk.

Sekarang kondisinya sangat berbeda. Masa manis bagi stasiun radio swasta dalam menikmati kue iklan dengan mudah agaknya sudah lewat. Kalau dulu, pengiklan berlomba-lomba mencari stasiun radio, sekarang justru sebaliknya. Stasiun radio berlomba-lomba mencari pengiklan. Dengan kondisi seperti sekarang ini, mau tidak mau, semua stasiun radio swasta bersaing sangat ketat untuk memperebutkan kue iklan yang porsinya semakin menciut.

Mengganggu kinerja
Untuk terus tumbuh, berkembang dan maju, sebuah stasiun radio, tentu saja, perlu topangan dana yang cukup serta stabil. Selama ini, aliran dana utama bagi stasiun radio swasta di Tanah Air adalah dari raihan iklan. Jika raihan iklan seret, maka alamat stasiun radio itu akan berjalan tertatih-tatih. Ia tidak akan mampu mengembangkan program-program siarannya dengan baik.

Seretnya raihan iklan, jelas, akan sangat menganggu kinerja stasiun radio swasta yang pada gilirannya akan berdampak pada munculnya program-program acara yang asal-asalan, program-program acara yang mengudara seadanya. Jangankan untuk menambah perangkat lunak dan perangkat keras siaran serta untuk melakukan pelatihan dan peningkatan keterampilan karyawannya sehingga kualitas siaran menjadi semakin baik, hanya untuk biaya operasional bulanan saja, seperti untuk membayar gaji karyawan dan membayar tagihan listrik, pengelola radio sudah cukup kepayahan.

Sementara kalangan berpendapat, ada baiknya kalau dipikirkan upaya merger di antara stasiun-stasiun radio yang manajemen dan permodalannya kurang sehat.
Artinya, beberapa stasiun radio bergabung dan membentuk menjadi sebuah stasiun radio baru yang lebih sehat dan lebih kuat. Hal ini meniru langkah yang sempat diambil oleh lembaga perbankan kita beberapa tahun lalu. Waktu itu, banyak bank dinilai sakit dan bermasalah. Untuk menyehatkannya, dipilihlah jalan dengan melakukan merger. Beberapa bank dilebur menjadi sebuah bank baru yang lebih sehat dan lebih kuat.

Namun, langkah merger saja belum cukup. Bisnis radio adalah bisnis kreativitas. Agar sebuah stasiun radio dapat bertahan dan menguntungkan secara bisnis, resep kuncinya terletak pula pada kreativitas. Itu artinya, insan-insan radio dituntut harus selalu kreatif dalam merancang dan menyuguhkan program-programnya.

Saat ini, dengan kemajuan teknologi informasi, stasiun radio -- apa pun formatnya -- sesungguhnya bisa merangkul pendengar yang lebih banyak dan lebih luas. Kenapa? Daya jangkau siaran radio kini sudah tidak lagi dibatasi oleh jarak maupun waktu. Lewat teknologi streaming, siaran sebuah stasiun radio dapat didengar khalayak di mana pun di seluruh pelosok dunia.

Persoalannya tinggal apakah siaran radio tersebut mendorong minat khalayak untuk mendengarnya atau tidak. Sepanjang para pengelola radio mampu secara kreatif merancang dan menyuguhkan konten-konten siaran yang berkualitas, menarik dan dibutuhkan khalayak, maka khalayak bakal tidak pernah meninggalkan stasiun radio yang mereka kelola.

keberadaan khalayak pendengar, apalagi dalam jumlah besar, pada gilirannya bakal menarik pengiklan untuk beriklan. Dari sinilah sesungguhnya simbiosis mutualisme antara pengelola radio, pendengar dan pengiklan dibangun. Jika hal ini bisa terbentuk secara baik dan sinambung, maka peran radio sebagai media massa yang memberi pelayanan kepada publik dalam bidang informasi, penerangan, pendidikan, hiburan maupun bisnis dapat berjalan pula dengan baik. Pada saat yang sama, pengelola radio, pendengar dan pengiklan sama-sama pula diuntungkan.

(Oleh: Djoko Subinarto) Penulis adalah kolumnis lepas, alumnus Universitas Padjadjaran

0 Comments

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *